Blog ini pindah ke Maringngerrang.com

Sunday, April 28, 2013

Israel Bombardir Tepi Gaza

Seorang bocah Palestina memandang ke arah lapangan sepakbola yang hancur dibom Israel, dari balik teralis rumahnya, di Gaza, pada masa gencatan senjata antara Palestina dengan Israel (23/11). REUTERS/Ahmed Zakot

TEMPO.CO, TEPI GAZA — Israel memborbardir lokasi latihan militer Hamas kemarin sebagai balasan atas serangan roket sehari sebelumnya. Dua serangan udara pesawat tempur Israel menghantam tempat latihan Brigade Al-Quds—kelompok bersenjata milik Jihad Islam di Kota Khan Yunis.

“Tidak ada korban luka, tapi tempat latihan rusak,” kata Brigade Al-Quds dalam pernyataan yang dilansir kanto berita Palestina, Ma’an. Sedangkan serangan ketiga terjadi di dekat Kota Rafah yang berbatasan dengan Mesir.

Ini merupakan serangan udara pertama Israel sejak awal bulan. Kala itu, pasukan Israel dan Hamas bertempur selama delapan hari setelah gencatan senjata yang dimotori Mesir gagal. Serangan ini pun seiring dengan janji yang dilontarkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam rapat mingguan kemarin, Netanyahu bersumpah akan membalas semua serangan roket dari Gaza.

“Kami akan melakukan semua cara untuk memastikan keamanan rakyat Israel di semua lokasi,” ujar dia. Selain menggelar serangan udara, Israel juga menutup perbatasan dengan Gaza di Kerem Shalom. Namun pintu perbatasan lain menuju Gaza akan dibuka hanya untuk akses bantuan kemanusiaan.

Insiden roket terjadi pada akhir pekan lalu. Saat itu, ribuan warga Israel tengah merayakan hari raya Lag Baomer di taman dan hutan. Roket dari arah Gaza kemudian menghantam lokasi terbuka dan tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka. Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Namun Tel Aviv berkukuh Hamas bertanggung jawab sebagai pengusa Gaza. Serangan roket dari Gaza terus menurun sejak serangan militer Israel pada November lalu. Sebelumnya, hampir setiap hari kelompok militan menyerang kota-kota di wilayah selatan Israel dengan roket atau rudal.

Sunday, March 24, 2013

Asal Usul Miringnya Menara Pisa

Menara miring Pisa (dalam Bahasa Italia: Torre pendente di Pisa) atau yang biasa disebut The Tower of Pisa (La Torre di Pisa) adalah sebuah menara lonceng dari sebuah katedral di kota Pisa, Italia. Menara ini terletak di belakang katedral dan merupakan struktur ketiga di Campo dei Miracoli (keajaiban) Pisa.

Walaupun rencana semula dibangun secara vertikal, menara itu mulai miring ke arah tenggara segera setelah dilakukan konstruksi di tahun 1173, dikarenakan pondasi yang tak sempurna.

Tinggi dari menara tersebut adalah 55,86 km dari permukaan tanah di sisi terendah, dan 56,70 m di sisi yang tertinggi. Lebar alas bangunan itu adalah 4,09 m dan lebar puncaknya adalah 2,48 m. Berat menara ini diperkirakan 14,500 ton dan memiliki 294 anak tangga.

Konstruksi dari Menara Pisa dibangun dalam tiga tahap, yang memakan waktu sekitar 200 tahun. Konstruksi marmer putih di lantai pertama dimulai pada tanggal 9 Agustus 1173, pada masa kejayaan militer dan kemakmuran Italia. Lantai pertama ini dikelilingi oleh beberapa pilar dan walaupun posisinya miring, namun tetap tahan selama berabad-abad.

Ada kontroversi seputar identitas dari arsitek yang membangun Menara Miring Pisa. Selama bertahun-tahun, desain tersebut diyakini dibuat oleh Guglielmo dan Bonanno Pisano, artis lokal kenamaan di abad ke-12, yang terkenal dengan karya perunggunya, khususnya pada karyanya Pisa Duomo.

Bonanno Pisano meninggalkan Pisa di tahun 1185 dan pindah ke Monreale, Sicilia, namun kemudian kembali lagi dan meninggal di tanah kelahirannya itu. Makamnya ditemukan di dasar tower di tahun 1820.

Menara itu pertama kali miring setelah lantai ketiga dibangun di tahun 1178, dikarenakan amblasnya pondasi sedalam tiga meter, akibat pergerakan tanah. Ini berarti bahwa desain dari menara tersebut telah cacat sejak pada awalnya.

Konstruksi dihentikan sementara selama hampir seabad lamanya, karena para warga Pisa hampir terlibat peperangan dengan Genoa, Lucca dan Florence. Selama masa ‘istirahat’ ini, struktur tanah di bawahnya telah kembali stabil. Dan di tahun 1198, dipasang jam untuk sementara pada bangunan yang masih belum tuntas itu
Di tahun 1272, bangunan itu dilanjutkan kembali oleh Giovanni di Simone, arsitek dari Camposanto. Lantai keempat dibangun untuk mengimbangi kemiringan dari menara ini. Pembangunan kembali dihentikan di tahun 1284, saat Pisa ditaklukan oleh Genoa dalam Pertempuran Meloria.

Pembangunan menara lonceng ini tak selesai terhenti hingga 1372. Setelah itu, Tommaso di Andrea Pisano berhasil menyelesaikan elemen-elemen Gothic dari menara tersebut, dengan memberikan sentuhan gaya Roma. Terdapat tujuh lonceng pada menara tersebut, yang masing-masing mewakili not pada nada. Lonceng yang terbesar dipasang pada tahun 1655.

Sunday, March 10, 2013

Moyang Unta Ternyata Pernah Hidup di Kutub


Moyang unta ternyata pernah mendiami wilayah lintang tinggi, wilayah kutub.
OTTAWA, KOMPAS.com — Unta dikenal sebagai binatang yang hidup di daerah gurun dan kering. Namun, pada masa lalu, di pertengahan era Pliosene, moyang hewan ini ternyata pernah hidup di daerah dingin, sangat dekat dengan kutub.

Fakta ini terungkap dari hasil temuan fosil unta oleh tim peneliti di Canadian Museum of Nature di Ottawa.

Tim peneliti yang dikomandani oleh paleobiolog Natalia Rybczynski berhasil menemukan fosil unta yang diperkirakan berusia 3,5 juta tahun di Pulau Ellesmere. Pulau itu terletak di bagian paling utara Kanada, Nunavut.

"Fosil ini adalah bukti pertama yang menunjukkan bahwa unta pernah hidup di daerah itu," kata Rybczynski kepada Livescience, Selasa (5/3/2013).

"Temuan ini mengejutkan kami. Sebabnya, kita sering mengasosiasikan unta sebagai hewan yang hidup di habitat beriklim kering (arid) dan setengah kering (semi-arid)," urainya lagi.

Ada 30 buah tulang yang merupakan bagian tulang kering fosil unta yang berhasil ditemukan tim peneliti. Tulang-tulang itu kemudian diidentifikasi menggunakan metode collagen fingerprinting. Jumlah protein, bernama Kolagen Type I, yang terkandung dalam tulang tersebut dihitung.

Berdasarkan hasil analisis yang dipublikasikan pada Jurnal Nature Communications kemarin terungkap bahwa nenek moyang unta yang ditemukan berusia 3,5 juta tahun dan ukurannya 1/3 kali lebih besar daripada unta modern yang hidup saat ini.

Rybczynski mengatakan, kondisi pada masa 3,5 juta tahun lalu memang memungkinkan bagi unta untuk bisa hidup di daerah dekat dengan kutub. Pertengahan era Pliosene itu dikenal dengan kondisinya yang hangat. Suhu global masa itu 2-3 derajat Celcius lebih hangat dari suhu saat ini.

Ke depannya, Rybczynski dan timnya berencana untuk meneruskan pencarian unta di daerah sekitar kutub utara. "Kami berharap bisa menemukan bukti lainnya," kata Rybczynski.

Sumber : Kompas.

Thursday, February 28, 2013

Penelitian: Planet Mars Mungkin Sudah Bisa Dihuni Sekarang


Oleh: Rod Pyle, SPACE.com

Los Angeles - Beberapa peneliti mengungkapkan, meski Mars lebih mungkin ditinggali di masa lalu (karena lebih hangat dan lebih basah), saat ini Planet Merah itu mungkin masih mampu menyokong kehidupan mikroba.

Penelitian yang sedang berlangsung di tempat-tempat mirip Mars antara lain Antartika dan gurun Atacama di Chile menunjukkan, mikroba dapat berkembang di lingkungan dingin dan kering yang ekstrem, demikian dikatakan beberapa peneliti di konferensi “The Present-Day Habitability of Mars” yang diadakan di University of California Los Angeles bulan ini.

Dan tidak semua bagian dari permukaan Planet Merah itu kering saat ini, setidaknya tidak selalu. Bukti yang ada menunjukkan bahwa air dapat mengalir secara musiman pada beberapa wilayah Mars yang berpotensi memberikan surga bagi kehidupan seperti yang kita ketahui.

"Kami tentu tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa Mars layak huni saat ini," kata Alfred McEwen dari University of Arizona, peneliti utama untuk kamera HiRise di pesawat ruang angkasa NASA, Mars Reconnaissance Orbiter.

Apakah ada air permukaan di Mars?
McEwen membahas beberapa pengamatan menarik yang dilakukan oleh HiRISE, yang menyatakan bahwa air asin mungkin mengalir menuruni lereng curam Mars selama musim semi dan musim panas di sana.

Enam belas situs telah diidentifikasi sampai saat ini, sebagian besar berada pada lereng Valles Marineris, ungkap McEwen. Trek tersebut tampaknya terus terulang secara musiman seperti cairan sirup yang mengalir turun di jalur yang digerus cuaca.

Meski air asin dapat berasal dari bawah tanah, Edwin Kite dari Caltech mencatat, ada kecurigaan yang meningkat bahwa proses yang dikenal sebagai “deliquescence”, saat kelembapan yang ada di atmosfer dikumpulkan oleh senyawa di tanah, sehingga memungkinkannya untuk menjadi cairan, bertanggung jawab atas fenomena tersebut.

Para ahli astrobiologi tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai air asin tersebut, karena tidak banyak yang diketahui tentang mereka saat ini.

"Air asin yang ada di Mars mungkin atau mungkin tidak layak huni untuk mikroba, baik dari bumi maupun dari Mars," kata McEwen.

Mikroba yang kuat
Beberapa peneliti menekankan bahwa kehidupan di Mars mungkin mampu bertahan bahkan di tempat-tempat air tidak merembes dan mengalir.

Misalnya, mikroba di Bumi dapat bertahan hidup di Atacama dan lembah-lembah kering Antartika, yang keduanya sangat dingin dan kering, kata Chris McKay dari Ames Research Center NASA  di Moffett Field, California

Beberapa situs di Antartika juga mendapat radiasi ultraviolet kadar tinggi secara musiman, yang diakibatkan oleh sebuah lubang di lapisan ozon yang cenderung mengembang setiap Agustus hingga November. Hal ini juga terjadi terhadap Mars, yang atmosfer tipisnya dan kurangnya medan magnet pelindung membuat planet tersebut lebih banyak terkena radiasi dibanding Bumi.

Di lembah Antartika yang kering, McKay mengatakan, organisme tinggal di dalam batuan, yang cukup dalam untuk bisa terlindungi dari dampak terburuk sinar UV, tapi cukup dekat ke permukaan untuk mendapatkan manfaat dari fotosintesis. Hal serupa mungkin terjadi di Mars saat ini, jika kehidupan pernah berkembang di sana.

McKay juga membahas deliquescence, yang di Atacama memungkinkan garam untuk mengumpulkan cukup air guna mendukung eksistensi kehidupan.

McKay menawarkan beberapa saran untuk wahana penjelajah Curiosity NASA  di Mars, yang mendarat pada Agustus untuk menentukan apakah Mars pernah mendukung kehidupan mikroba: “Hati-hati dengan garam!"

Sebuah potensi sumber energi
Sejumlah presenter menghabiskan waktu berbicara mereka untuk membahas tentang perchlorate, bahan kimia mengandung klorin, yang pernah ditemukan oleh wahana Phoenix NASA di dekat kutub utara Mars pada 2008.

McKay dan peneliti lainnya berpikir bahwa perchlorate mungkin merupakan alasan wahana kembar Viking milik NASA tidak mendeteksi senyawa organik apa pun, materi pembangun kehidupan mengandung karbon seperti yang kita ketahui di Planet Merah pada tahun 1970-an.

Viking menguapkan tanah Mars dan mencari setiap materi organik yang mendidih. Mereka tidak menemukan apa pun kecuali senyawa klorin yang dianggap penyebab kontaminasi. Tapi setelah perchlorate ditemukan oleh Phoenix, McKay dan beberapa peneliti lainnya melakukan sebuah percobaan.

Mereka menambahkan perchlorate ke sejumlah debu gurun dari Chile yang diketahui mengandung organik. Mereka memanaskan tanah dan menemukan senyawa klorin yang sama seperti yang ditemukan Viking, yang menunjukkan bahwa materi organik mungkin telah ada dalam sampel Viking namun terpecah akibat kombinasi panas dan perchlorate.

Meskipun cerita pendukung ini menarik, perchlorate juga relevan dengan kemungkinan kelayakan huni Mars masa kini.

"Perchlorate, ternyata, adalah sumber energi chemoautotrophic yang potensial," kata Carol Stoker, yang juga berasal dari NASA Ames, mencatat bahwa bahan kimia tersebut berpotensi mempertahankan mikroba di bawah permukaan Mars yang gelap, saat fotosintesis bukanlah suatu pilihan.

Dan beberapa mikroba bumi menggunakan perchlorate untuk makanan, sehingga hal tersebut juga bisa terjadi di Mars, seperti yang ditemukan para peneliti.

“The Present-Day Habitibility of Mars” digelar pada 4-5 Februari dan diprakarsai oleh institut NASA Astrobiology dan UK Centre for Astrobiology.

Sunday, February 24, 2013

Di Rusia, Tikus Dilatih Jadi Intel


TEMPO.CO, Moskow - Intelijen militer Rusia kini tengah menguji mata-mata baru, Agen Squek. Berbulu putih, agen ini bukanlah seorang manusia atau anjing, hewan yang biasa menjadi pelacak jejak. Agen baru ini merupakan binatang pengerat alias tikus.

Meski berukuran mini, tikus dipercaya berpotensi unggul dalam mendeteksi bahan peledak, amunisi, serta mengendus jejak manusia. Mirip seperti anjing. "Untuk operasi bawah tanah, tikus adalah agen yang sangat lihai," kata pakar Rusia, seperti yang dilansir Mail Online, Selasa, 19 Februari 2013.

Bahkan, sumber di Moskow menyatakan, pihak militer Israel telah memakai tikus untuk menghadang kejahatan terorisme. Bila berhasil melewati serangkaian tes menuju lokasi rahasia, agen tikus ini bisa menjadi anggota dinas rahasia Rusia. "Mereka akan dijuluki honeytraps, bukan mousetraps," kata surat kabar Izvestia.

Kata spesialis teknis dan pusat keamanan EVRAAS di Moskow, Anton Venediktov, tikus dapat belajar mendeteksi bau zat tertentu. Bila mengendus bebauan itu, si tikus akan berlari ke dalam kandang. Kemudian membuat pose tertentu. "Tikus dapat dilatih memberikan sinyal soal bau senjata, bahan peledak, obat-obatan, serta tubuh manusia," kata Venediktov.

Kenapa Rusia memilih tikus sebagai agen intelijen? Kata Venediktov, binatang pengerat ini memiliki sistem saraf pusat yang cukup sederhana dibandingkan hewan lain. Artinya, tikus tidak begitu rentan akan perubahan hati atau stres emosional. Membuat perilaku mereka jauh lebih stabil.

"Mereka dapat bergaya seperti agen 007," kata Venediktov. "Bahkan, agen tikus mampu melakukan 150 tugas, dalam sebulan, dengan waktu 6-8 jam dalam tiap sif-nya."

Tukang Semir Sepatu Ini Sumbang Duit Rp 2 Miliar


TEMPO.CO, Pittsburgh –  Seorang penyemir sepatu di Pittsburgh menyumbang sebuah rumah sakit anak  dengan uang tip yang disimpannya selama 30 tahun. Total jumlahnya mencapai lebih dari US$ 200 ribu atau sekitar Rp 2 miliar.

Albert Lexie, sang dermawan, telah menyemir sepatu di depan Rumah Sakit Anak Pittsburgh sejak tahun 1980. Upahnya sebesar US$ 5. Para pelanggan kadang-kadang memberi tambahan satu-dua dolar. Tip terbesarnya diterima dari seorang dokter sebesar US$ 50 di Hari Natal.

Menurut siaran televise WTAE-TV, Lexie memberikan semua uang tipnya kepada anak-anak yang dirawat di rumah sakit tersebut.

Dr Joseph Carcillo dari RS Pittsburgh mengatakan Lexie mendonasikan uangnya kepada Dana Perawatan Gratis, yang membantu  kalangan tidak mampu yang dirawat di rumah sakit tersebut. Lexie telah menjadi penyemir sepatu sejak tahun 1950-an. Dia mengatakan b bahwa “menjadi pahlawan itu menyenangkan.”

Cina Akui Adanya 'Desa Kanker' Akibat Polusi


TEMPO.CO, Beijing - Kementerian lingkungan Cina akhirnya mengakui keberadaan apa yang disebut sebagai "desa kanker" setelah bertahun-tahun spekulasi publik tentang dampak polusi di daerah-daerah tertentu. Selama beberapa tahun ini, kasus kanker di beberapa desa dekat pabrik dan perairan yang tercemar telah meningkat tajam.
Namun laporan Kementerian Lingkungan Hidup Cina tidak secara eksplisit mengurai "desa kanker". Istilah ini tidak memiliki definisi teknis dan laporan kementerian tidak merinci hal itu.
Laporan terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup berjudul "Penjaga terhadap risiko dan kontrol akibat bahan kimia terhadap lingkungan selama periode Lima Tahun ke-12 (2011-2015)". Laporan ini menyebut banyak bahan kimia berbahaya dilarang di banyak negara maju masih ditemukan di Cina. "Bahan kimia beracun telah menyebabkan keadaan darurat lingkungan yang terkait dengan air dan polusi udara," kata laporan ini.
Laporan ini mengakui bahwa bahan kimia tersebut menimbulkan risiko jangka panjang untuk kesehatan manusia, membuat dampak langsung pada apa yang disebut sebagai "desa kanker". "Bahkan ada beberapa kasus serius desa kanker muncul di masing-masing wilayah," kata laporan itu.
Liputan media dari apa yang disebut "desa kanker" telah tersebar luas. Pada tahun 2009, seorang wartawan Cina menerbitkan peta yang mengidentifikasi puluhan desa yang tampaknya terpengaruh oleh polusi yang berat.
Pada tahun 2007 BBC mengunjungi dusun kecil Shangba di Cina selatan di mana salah satu ilmuwan yang mempelajari penyebab dan efek dari polusi di desa. Dia menemukan tingkat tinggi dari logam berat beracun dalam air dan percaya ada hubungan langsung antara insiden kanker dan pertambangan di daerah.
Pengacara lingkungan, Wang Canfa, yang mengelola lembaga advokasi lingkungan di Beijing, mengatakan ini adalah pertama kalinya frase "desa kanker" muncul dalam dokumen kementerian. Ia berharap ada tindak lanjut setelah ini.
Bulan lalu Beijing dan beberapa kota lain diselimuti kabut asap akibat polusi yang dianggap berbahaya oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Polusi telah memicu kemarahan publik selama bertahun-tahun namun tak ada aksi nyata pemerintah menanggulanginya.

Sumber : Yahoo! News